Home News Berawal Dari Obsesi, Kombi Dakota Ini Akhirnya Terwujud Ikut Kontes JVWF 2019

Berawal Dari Obsesi, Kombi Dakota Ini Akhirnya Terwujud Ikut Kontes JVWF 2019

9 min read

Di kalangan penggemar VW klasik, Kombi Dakota merupakan salah satu model yang banyak dicari dan menjadi koleksi. Seperti pemilik Dakota satu ini yang rela bersusah payah membangun Dakota dari kondisi berantakan hingga menjadi layak ikut kontes.

Drive and Hype – Adalah Poer Bramantyo, satu dari puluhan pemilik Volkswagen klasik yang ikut meramaikan ajang Jogja Volkswagen Festival (JVWF) 2019 dengan memamerkan mobil kesayangannya tersebut. Poer merupakan satu sekian banyak VW-holic yang sukses mewujudkan impiaannya; menghadirkan angan-angan VW klasiknya ke wujud aslinya.

Ya, dari sekadar mendapat bahan yang jauh dari kata layak, Poer meminang sebuah VW Type-2 ‘Early Bay’ yang di Tanah Air lazim disebut Kombi Dakota. Memang, nama sebutan kombi produksi awal ini hadir dengan beberapa sebutan di Tanah Air. Mulai dari VW ‘cancut’ karena garis desain bodi di depan yang mengerucut ke bawah, juga disebut kombi dakota karena kaca depan terbelah mirip pesawat dakota.

Kondisi saat Kombi Dakota pertama didapatnya, menurut Poer sungguh memprihatinkan. Hanya bodi yang tersisa dengan banyak item tersebar dan hilang. Kondisi bodi juga penuh karat. Menurut Poer, tampak hasil pekerjaan bengkel sebelumnya tidak selesai tersebut, terlihat tidak paham soal nad bodi yang membuat beberapa bagian meleset dari desain orinya.

 

“Semua pritilan aksesori bodi tidak ada. Hanya bodi, sebagian kaki-kaki, dan mesin yang lama mati. Karena semangat dan keinginan besar dari dulu ingin punya koleksi VW yang banyak diincar. Jadi tetap semangat kendati semuanya saya harus bangun dari nol dan nyari banyak komponen yang hilang,” jelas Poer.

Berbekal rajin bertanya dan mencari ke banyak teman, berburu komponen di sosial media seperti grup Facebook khusus spareparts VW klasik, hingga memesan langsung ke importir komponen dan aksesori VW yang ada di Tanah Air, satu persatu komponen bodi dan interior mulai didapat Poer, yang mendapat bahan Kombi Dakota tersebut dari sohibnya pereli andal, Rifat Sungkar.

 

Mengingat proses restorasi yang akan dilakukan cukup menantang, akhirnya dia memilih workshop bodi khusus VW klasik berlabel Mack Workshop yang berlokasi di Bintaro, Tangerang Selatan. “Saat datang, kondisi sudah las-lasan tapi banyak meleset nad-nad bodinya,” beber Mack.

 

Beruntung selera Poer dengan Mack sejalan. Keduanya ingin mengembalikan ke posisi original. Pasalnya, banyak proses pengelasan sebelumnya meleset. Akhirnya, Poer memesan dua pasang fender depan dan belakang ke VW Heritage. “Lebih baik beli sudah jadi daripada bikin tapi tidak presisi. Apalagi bonnet Dakota saya ini sepertinya juga pernah ‘kena’ jadi harus dibalikkan ke nad semula,” terang Poer.

Agar memudahkan dan melancarkan proses kerja restorasi, Poer memesan banyak aksesori interior dan eksterior dari outlet VW Heritage yang dikelola Indra Hernandi, penggemar dan pemain VW kawakan dari Yogyakarta. “Seperti frame kaca depan safari window, engsel frame kaca, hingga karet-karetnya,” sambung Poer. Pemasangan fender ini membuat beberapa penyesuaian pada bodi yang ada, lantaran fender yang dipesan merupakan replica dari aslinya.

Diakui Poer, ia pernah mencoba memakai frame kaca depan berikut engsel yang diproduksi lokal. Namun hasilnya ternyata kurang presisi. Lantaran frame bodi untuk kaca safari window pada Dakota milik Poer masih asli dan kurang cocok dengan bikinan lokal. Hasilnya, ia puas dengan kehadiran VW Heritage yang bisa mencarinya hingga harapan Poer dengan Kombi bisa terwujud.

Untuk warna, Poer sengaja meracik warna kombinasi yang anti-mainstream. “Sempat lihat warna cat bawaan Kombi Dakota. Namun saya lebih ingin mewujudkan kata hati; jangan warna yang biasa dipakai. Keinginan tersebut disampaikan ke Mack. “Paduan biru di atas dan putih di bagian bawah bodi justru lebih eye-catching dan tidak pasaran. Untuk cat dipilih Sikkens Indigo Blue, Classic White, dan pernis dengan merek yang sama,” sambung Mack.

Usai urusan pengerjaan bodi, interior bodi digarap serius dengan mendatangkan bahan plafon standar Kombi Dakota dari Inggris. Pasalnya materi plafon perforated (bolong kecil) kini sudah sulit didapat. Begitu pula jok depan dan tengah akhirnya bisa dilengkapi dengan perburuan rajin di sosial media. “Untuk bahan pelapis jok dan door trim, mengandalkan produk kulit sintetis  menyerupai aslinya. Jok yang hanya dapat rangkanya juga direparasi Mack sehingga utuh kembali,” senyum Poer.

Sektor kaki-kaki, demi kemudahan dan kenyamanan, Poer mengadopsi sistem suspensi Kombi Jerman yang mengandalkan balljoint. Sebelumnya model suspensi Dakota masih adopsi model king-pen yang lebih keras dalam kerjanya. Untuk pelek, dipilih Empi Sprinstar 5×112 yang berkarakter dan terkesan lebih ‘mencengkeram’ ke tampilan bodi keseluruhan.

Untuk mendapatkan pelek ‘rare item’ ini juga tak gampang. Butuh waktu dan rajin bertanya. Beruntung, Poer akhirnya bisa mendapatkan pelek idamannya. Terlebih Empi Sprintstar ini punya tapak belang, 4,5×15 untuk roda depan dan 5,5×15 di belakang. “Khusus pelek depan ini masih saya modif lagi agar offset-nya tidak terlalu keluar, jadi lebih mengarah ke dalam. Agar estetikanya lebih dapat,” papar Poer yang bekerja di bidang Event Organizer ini.

Masuk urusan dapur pacu, Mack dan Poer meracik dengan komposisi nyaman dipakai harian dan touring. Spesifikasi mesin masih  standar 1.600 cc dengan karburator ganda Kadron, pengapian Compufire dengan delco model distributorless. Selanjutnya doghouse blower pendingin mesin dipakai model Porsche. Tak lupa diaplikasikan breather box agar pernapasan uap panas oli mesin jadi lebih lancar dan mesin pun lebih adem.

Dengan kesabaran dan konsistensi pengerjaan selama 2 tahun, akhirnya Kombi Dakota milik Poer selesai sudah, dan langsung ikut hadir di ajang kontes bergengsi JVWF 2019. “Untuk sementara puas dengan hasil sekarang ini. Namun berikutnya masih akan ada penyempurnaan lagi di beberapa komponen,” tutup Poer.

Load More Related Articles
Load More By Octo Budhiarto
Load More In News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *