Home News Bisnis Logistik dan Jasa Pengiriman Tumbuh Pesat di Masa Pandemi Covid-19

Bisnis Logistik dan Jasa Pengiriman Tumbuh Pesat di Masa Pandemi Covid-19

8 min read

Peningkatan signifikan atas perubahan pola perilaku konsumsi masyarakat dari pembelian offline menjadi online di saat pandemi Covid-19 turut membuka peluang pengusaha logistik dan jasa pengiriman bisa terus berjalan.

Drive and Hype – Pertumbuhan pesat dialami mereka yang bermain di sektor jasa pengiriman dan bisnis logistik pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19. Hal tersebut terungkap dalam webinar yang diselenggarakan Jawa Pos Grup dengan tema “Peluang Bisnis Baru : Siasat Bisnis Logistik dan Jasa Pengiriman di tengah Pandemi Covid-19” pada Senin, 6 Juli 2020.

Dalam webinar ini, hadir para narasumber dari Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) area Jawa Timur, Vice President PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), dan GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia, yang memberi banyak paparan menarik tentang tumbuhnya bisnis logistik dan jasa pengiriman di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia.

Lesunya jalur dan aktivitas perdagangan menurut Ardito Soepomo, Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) area Jawa Timur, sudah mulai dirasakan Asperindo sejak Januari 2020. Hal ini karena traffic impor dari Cina yang mulai menurun. Kendati saat itu wabah Corona belum sampai di Indonesia.

Situasi tersebut semakin terasa saat dampak pandemi Covid-19 makin menguat dan pada Maret 2020 diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di mana transportasi dan tindakan karantina menghambat supply proses pengiriman barang. “Di sisi lain, justru terjadi peningkatan signifikan perubahan pola perilaku konsumsi masyarakat, dari pembelian offline menjadi online. Ini adalah peluang pengusaha logistik untuk terus berjalan di saat volume distribusi logistik international menurun,” papar Ardito.

Selama PSBB, Asosiasi tetap mengarahkan anggotanya untuk selalu mengikuti aturan Pemerintah mengenai protokol kesehatan. Dari sisi bisnis, meski keadaan bisnis keseluruhan sedang menurun ditambah kompetisi di sektor logistik yang bukan saja diisi pemain ekspedisi namun juga penyedia jasa ojek online, memaksa para pengusaha logistik berinovasi menciptakan layanan baru. Mereka memaksimalkan modal sosial dan jaringannya untuk bisa tetap bertahan.

Sedangkan bila dilihat dari sisi pemain besar ekspedisi, menurut Vice President PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Eri Palgunadi, masa pandemi ini justru mengalami kenaikan bisnis sebesar 10-20%. “Terdapat perubahan pola kuantitas pengiriman dari sebelumnya hanya tinggi saat weekdays, kini terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat melalui e-commerce, sehingga saat weekend pun jumlah pengguna jasa pengiriman barang meningkat,” sebut Eri.

Walaupun bisnisnya tengah meningkat, JNE memastikan tidak mengabaikan kesehatan karyawannya, di antaranya membuat SOP bisnis sesuai protokoler kesehatan karena 2/3 karyawan JNE adalah messenger yang rentan terkena virus karena bertemu dengan banyak orang dan banyak menhabiskan waktu di jalan.

Sementara dari sudut pandang penyedia kendaraan niaga, Isuzu memulai melakukan mapping segment bisnis, di mana terdapat segmen mengalami penurunan dan terdapat pula segmen meningkat pesat. Berdasar data Gaikindo, hingga Mei 2020 pertumbuhan pasar kendaraan komersial terkoreksi cukup dalam hingga 37,5 persen.

Jumlah penjualan retail sales per Mei 2020 pun mengalami penurunan, untuk segmen medium pick up penjualan Isuzu Traga terkoreksi persen, segmen truk kelas ringan terkoreksi cukup dalam sebesar 29,8 persen. Koreksi terdalam justru ada di segmen medium truk 45,4 persen.

Meskipun demikian, dilihat dari sudut pandang perolehan market share Isuzu justru meningkat, dimulai dari kelas medium pick up Isuzu Traga yang membubuhkan angka positif 9,9 persen, di kelas truk ringan Isuzu Elf naik 1,5 persen, dan di segmen medium truk, Isuzu Giga naik 3,6 persen.

Tumbuhnya market share Isuzu ini bisa dilihat dalam beberapa sisi, menurut Attias Asril selaku GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), karena Isuzu berhasil masuk segmen tepat di bisinis yang masih tumbuh meskipun total market kendaraan niaga sedang turun. Faktor kedua, efisiensi menjadi perhatian pebisnis di mana Isuzu mampu memberi total biaya kepemilikan dan operasional lebih kompetitif berkat DNA mesin yang bandel dan irit bahan bakar.

Dalam bisnis penyediaan kendaraan niaga, peran leasing juga turut berkontribusi besar, dalam keadaan serba tidak menentu seperti saat ini segmen logistik dan pengiriman barang justru mendapatkan angin segar karena segmen bisnis logistik lebih akan dipermudah.

Saat ini Isuzu bekerja sama dengan official leasing partner juga memberikan program bunga 0% untuk Isuzu Elf dan paket bunga 0% untuk Isuzu Traga sebagai bentuk dukungan Isuzu untuk membantu partnernya melewati masa sulit pandemi. Selain memberikan program untuk proses penjualan unit, Isuzu juga memberikan konsentrasi lebih pada aftersales.

“Isuzu fokus pada penyediaan kendaraan yang memenuhi kebutuhan kastemernya. Selama PSBB, Isuzu meningkatkan layanan purna jual. Saat PSBB banyak yang tidak boleh beroperasi, Isuzu justru mengantongi ijin usaha terbatas Kementerian Perhubungan untuk armada Bengkel Isuzu Berjalan (BIB). Isuzu dapat memastikan kastemer dapat beroperasi optimal,” imbuh Attias Asril.

Load More Related Articles
Load More By Octo Budhiarto
Load More In News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *