Home News Pasar Mobil Bekas di Fase New Normal, Cepat Turun tapi Cepat Pula Naiknya

Pasar Mobil Bekas di Fase New Normal, Cepat Turun tapi Cepat Pula Naiknya

6 min read

Akibat pandemi Covid-19, 68 persen dealer mobil bekas berhenti beroperasi. Tantangan sekarang, memulihkan pembiayaan mobil, perbaikan layanan agar sesuai protap kesehatan. Lebih dari 60% responden mengungkapkan pemulihan akan berlangsung lebih dari tiga bulan. Meski demikian, industri mobil bekas diharapkan mulai pulih da2-3 bulan dengan pemulihan berbentuk V (V-Shape recovery).

Drive and Hype – Pandemi Covid-19 telah mengubah hampir semua industri, termasuk segmen pasar mobil bekas. Selama masa pandemi tersebut, Pemerintah mengeluarkan himbauan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mengakibatkan 68 persen dealer berhenti beroperasi sementara waktu. Minimnya permintaan mobil bekas (mobkas), membuat diler juga membeli mobil dari pemakai lebih rendah hingga 20 persen dari harga pasar.

Sementara para konsumen juga memiliki tantangan tersendiri; pembiayaan mobil semakin sulit didapat hingga penundaan pembelian mobil karena adanya pergeseran prioritas ke kebutuhan pokok lainnya dan peralatan kebersihan. Karena faktor harga yang lebih miring, segmen mobkas diprediksi akan cepat kembali pulih.

Seiring dimulainya fase Normal Baru di berbagai kota di Indonesia dan juga di dunia, industri pun diproyeksikan akan berangsur membaik dan bergerak naik. Guna mengetahui seberapa jauh respon pasar mobil bekas terhadap pandemi, OLX Indonesia dan BeliMobilgue.co.id, meluncurkan white paper bertajuk “Pasar Mobil Bekas Indonesia di Masa “Normal Baru”.

Paper ini merupakan sebuah temuan dari penelitian yang melibatkan 895 responden (dealer, pembeli, penjual personal) yang berpartisipasi dalam survei yang dilaksanakan pada 17 Mei hingga 1 Juni 2020, dan diperkuat dengan desktop research.

Lebih dari 60% responden mengungkapkan pemulihan akan berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Meski demikian, industri mobil bekas diharapkan akan mulai pulih dalam waktu 2-3 bulan dengan pemulihan berbentuk V (V-Shape recovery), yang umumnya ditandai dengan kenaikan tajam ke puncak kurva (pemulihan cepat) setelah sebelumnya menurun tajam.

Adapun menurut makalah tersebut, faktor penurunan penjualan disebabkan karena 4 hal utama, yakni; Penerapan Pembatasan Sosial, di mana showroom tutup atau buka sebagian mencapai 68%, Menunda pembelian mobil dimana sebesar 58% pembeli karena kehilangan penghasilan dan 80% pembeli menunda pembelian mobil.

Selanjutnya faktor ketiga; adanya kredit pembiayaan mobil semakin ketat. Dalam hal ini sebesar 44% pembeli mempertimbangkan kredit pembiayaan dan 60% pembeli gagal mendapat kredit pembiayaan. Sedangkan faktor terakhir yakni keempat; akibat harga pasar yang turun, yakni 5-10% harga pasar turun saat sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, dan hingga 60% para dealer menurunka harga agar dagangannya dibeli.

Temuan lain terkait prediksi pemulihan industri mobil bekas menyebutkan:

  1. Kendati pembelian mobil bekas tertunda, sebesar 50% responden berencana melakukan pembelian mobil setahun kedepan
  2. Pergeseran preferensi masyarakat dari transportasi massal publik dan online ride-sharing ke kendaraan pribadi sebesar, masing-masing 21% dan 23%
  3. Adanya potongan alokasi dana untuk pembelian mobil, mengakibatkan 54% responden mempertimbangkan untuk membeli mobil bekas

Dengan model V, diperkirakan pemulihan pasar mobil bekas bakal terjadi lebih cepat. Penurunan penjualan mobil bekas ini tidak hanya di Indonesia saja, bahkan di negara yang fondasi ekonominya jauh lebih kuat. Seperti di Jerman, penjualan mobkas di sana selama April 2020 turun dingga 40%. Bahkan pada Mei, dibanding masa norma, penjualan mobkas Jerman merosot hingga 90%.

 

Mengacu pada hasil survei, tim OLX Indonesia dan BMG menyimpulkan ada beberapa faktor pendukung pemulihan pasar mobil bekas, yakni

  1. Pembelian mobil hanya tertunda, bukan hilang. Dalam hal ini, sebesar 50% konsumen akan membeli mobil dalam waktu 1 tahun ke depan. Sedangkan ada 70%konsumen mengaku masih melakukan pencarian mobil.
  2. Para pembeli kini beralih ke mobil pribadi. Sebesar 21% beralih dari pengguna transportasi umum, dan sebesar 23% beralih dari pengguna transportasi online.
  3. Para pembeli kini beralih ke mobil bekas karena sebesar 70% mengurangi biaya pembelian mobil baru, dan sebesar 54% lebih memilih mobil bekas dibandingkan mobil baru.

Selain beberapa faktor di atas yang memicu konsumen membeli mobkas, berkat adanya layanan inovatif dari penjual untuk calon konsumennya. Yakni seperti pertemuan secara virtual, uji coba mobkas di rumah konsumen, pembayaran tanpa kontak langsung, pelayanan bisa dilakukan secara online, dan pertemuan di dealer hanya dengan perjanjian.

 

 

Load More Related Articles
Load More By Octo Budhiarto
Load More In News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *