Home Hobby Peluang Bisnis Kuliner Anak Bangsa di Negeri Seberang Saat Pandemi

Peluang Bisnis Kuliner Anak Bangsa di Negeri Seberang Saat Pandemi

4 min read

Geliat bisnis kuliner hasil karya Anak Bangsa di Negeri Orang memang mampu perkenalkan cita rasa lokal ke kancah dunia, di masa pandemi seperti ini pun ternyata bisnis kuliner tersebut mengalami imbasnya. Namun kami berhasil mewawancarai dua restoran usaha Warga Negara Indonesia di dua Negara berbeda.

Drive and Hype – Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 benar-benar melumpuhkan banyak sektor terutama perekonomian hampir di seluruh dunia. Banyak sekali pengusaha yang terpaksa mengurangi karyawan atau menutup usahanya. Bisnis kuliner pun tak luput dari imbas pandemi ini. Tim Drivenhype mencari tahu kondisi bisnis kuliner Indonesia di luar negeri, yaitu di New Zealand dan Finlandia melalui IG LIVE BISA AJE di akun Istagram Drivenhype, bertajuk Yes We’re Still Open: Bangga Kuliner Indonesia di Negeri Orang.

Sebagai Co-Founder dari Bali Brunch di Finlandia, Galih Bulgamin mengaku kehilangan pendapatan yang cukup signifikan, yaitu sejumlah 60.000 Euro di awal fase lockdown. “Restoran lumayan parah sih ketika pertama kali pemerintah memutuskan lockdown. Di bulan pertama, kita lost sekitar 60.000 euro dari penjualan, jadi lumayan drastis. Masyarakat Finlandia pun cukup disipilin dengan peraturan, begitu peraturan lockdown keluar, kota-kotanya betul-betul shutdown. Ini juga memiliki dampak yang langsung terasa terhadap essential business”, ujarnya.

Sedangkan di New Zealand, pemerintah menerapkan sistem total lockdown selama 5 minggu, serta membagi fase-fasenya menjadi 4 bagian. “Jadi ada stage-nya, yaitu level 4, 3, 2 dan 1. Di level 4, restoran It’s Java tidak buka sama sekali karena hanya essential business yang boleh beroperasi. Its Java mengikuti total shutdown selama 4 minggu karena dianggap bukan essential business. Kemudian di level 3, hospitality business seperti restoran diizinkan buka tapi harus take away dan melakukan pembayaran contactless. Kami juga serius mengerjakan website untuk proses order. Selain itu juga bisa order melalui telepon. Di level 2, pemerintah memberikan keleluasaan dine in dengan maksimum 10 pengunjung dan tetap jaga jarak. Turun di level 1, sudah bebas dan normal serta tidak ada masalah sama sekali. Sekarang ini kami sudah di level 1”, ujar Zemmy, Founder restoran It’s Java di New Zealand.

Mengenai peran pemerintah Indonesia, Galih Bulgamin mengaku sama sekali tidak tahu tentang ada atau tidaknya bantuan dari pemerintah Indonesia atau KBRI. Galih menyebutkan bahwa selama ini mereka mendapatkan bantuan dari Pemda Helsinki atau Pemerintah Finlandia. Sejalan dengan pemerintah Finlandia, menurut Zemmy, pemerintah New Zealand juga memberikan subsidi kepada para pemilik bisnis sejumlah 580 dollar tiap minggu selama 28 minggu terakhir. Zemmy juga mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah Indonesia.

Load More Related Articles
Load More By Gatut Satrio
Load More In Hobby

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *